Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Faktor Penyebaran Ganoderma

Penyebaran Ganoderma melalui media tanah, serangan sanggup diawali semenjak pembibitan hingga dengan flora yang sudah menghasilkan, untuk itu salah satu upaya pencegahannya dengan cara membatasi penyebaran bibit kelapa sawit antar pulau/provinsi sebab media tanah asal bibit tersebut disertakan. Kondisi ini sanggup dicegah melalui pengiriman benih dalam bentuk seed dari sumber benih kemudian dikembangkan menjadi kecambah/bibit pada lahan yang akan ditanami, disamping itu melalui upaya-upaya lain yaitu :

Monitoring atau pengamatan penyakit, terhadap tingkat serangan, penyebaran, dan perkembangan penyakit BPB di lapangan.
Pengendalian secara kultur teknis, meliputi:

– Sanitasi pada dikala peremajaan, bertujuan untuk mengurangi inokulum Ganoderma spp. potensial pada areal tanam ulang eks kelapa maupun kelapa sawit. Cara ini sanggup mengurangi kasus penyakit BPB sebesar 60% hingga tahun ke-15.

– Sanitasi tegakan, bertujuan untuk mengendalikan penularan sekunder dari penyakit dan mengurangi terbawanya inokulum ke generasi flora berikutnya. Dengan cara ini kasus penyakit BPB sanggup ditekan hingga 25%.

– Penimbunan pangkal batang. Cara ini cukup efektif pada flora renta hingga 2 – 4 tahun sebelum diremajakan.

– Penghindaran penyakit dengan menciptakan lubang tanam besar (big hole/hole in hole).

• Pengendalian hayati

– Rotasi flora pada areal yang telah terjangkit berat penyakit BPB dengan memakai flora semusim, menyerupai padi, jagung, kacang tanah selama 1 – 2 tahun.

– Penggunaan jamur antagonis Trichoderma spp.

• Pengendalian kimiawi, beberapa fungisida dengan materi aktif triazol, tridemorf, triadimenol, dan triadimefon diketahui sanggup menekan serangan penyakit BPB. Pada flora sakit dengan tanda-tanda awal, sanggup dipakai fumigan dazomet.

Adapun tugas serta forum riset dan para pelaku Perkebunan dalam penanganan penyakit BPB mencakup :

Melakukan Eradikasi pada flora terjangkit berat
Pengendalian dengan Fungisida
Perbaikan budidaya tanaman
Memfasilitasi penyediaan materi gosip mengenai pengendalian hama terpadu pada flora kelapa sawit.
Menyebarkan ajaran baku operasional pengamatan dan pengendalian OPT flora kelapa sawit termasuk di dalamnya penyakit BPB.
Mencegah pemasukan sumber inokulum dari luar negeri dengan peraturan karantina termasuk peraturan karantina antar pulau (domestik).
Memfasilitasi kerjasama penelitian pengendalian penyakit BPB dengan Malaysia.
Peran Lembaga riset dan pelaku perjuangan perkebunan sangat diharapkan dalam upaya mengendalikan penyakit BPB, terutama dalam penyediaan benih yang tahan terhadap penyakit BPB. Namun demikian, hingga dengan dikala ini belum diperoleh benih yang tahan terhadap penyakit BPB. Saat ini sedang dijajaki penelitian biomolekuler untuk flora kelapa sawit yang tahan terhadap Ganoderma melalui kerjasama dengan pihak Malaysia.

Untuk sebaran penyakit menurut wilayah, terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan, sebagai berikut :

Luas serangan pada pada triwulan ke-4 tahun 2006, serangan penyakit BPB dilaporkan terjadi di Sumatera Utara seluas 142 ha dan di Kalimantan Selatan seluas 24 ha.
Pada triwulan ke-1 tahun 2008, serangan penyakit BPB hanya dilaporkan terjadi di Sumatera Utara seluas 2.691 ha, sementara di Kalimantan Selatan sudah tidak terjadi serangan.
Diduga, penyakit BPB dikala ini sudah banyak terjadi di luar kedua propinsi tersebut, namun tidak dilaporkan. Sampai dikala ini areal terluas pertanaman kelapa sawit memang berada di Pulau Sumatera dan Kalimantan.
Luas areal serangan Ganoderma spp. Per Triwulan I 2008 di Propinsi Sumut

- Serangan Ringan : 1.771,89 ha

- Serangan Berat : 918,80 ha

- Total Serangan : 2.690,69 ha
Wujud, Bentuk dan Ciri-ciri Ganoderma :

Ciri khas Ganoderma yaitu terbentuknya badan buah (sporophore) atau basidioma (basidiokarp), pada pangkal batang atau pada akar sakit di akrab batang kelapa sawit yang terserang.
Tubuh buah mula-mula tampak sebagai suatu bonggol kecil berwarna putih dan selanjutnya berkembang membentuk menyerupai kipas tebal yang bentuknya sanggup bervariasi.
Meskipun membentuk badan buah, hingga kini tugas sporanya dalam penularan penyakit masih belum diketahui dengan jelas. Spora dikatakan tidak sanggup menjadikan terjadinya nanah pribadi pada pertanaman kelapa sawit sehat, namun diduga sanggup mengadakan infestasi dan berkembang pada tunggul-tunggul kayu yang seterusnya sanggup menjadi sumber nanah bagi flora kelapa sawit sehat.
Selain itu, diketahui bahwa G. boninense mempunyai beberapa ras yang berbeda, bahkan pada satu flora sakit mungkin terdapat beberapa ras yang berbeda.