Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hama Gajah pada Perkebunan Kelapa Sawit

Hama Gajah pada Perkebunan Kelapa Sawit

Harus disadari bahwa gajah tidak termasuk hama utama kelapa sawit, alasannya yakni binatang ini termasuk salah satu satwa dilindungi oleh Undang-undang Pelestarian Alam. Masalah yang utama bahwasanya yakni berkurangnya daya dukung hutan sebagai habitat gajah akhir pembukaan hutan menjadi lahan perkebunan, perladangan dan pemukiman.

Hama Gajah pada Perkebunan Kelapa Sawit

Gajah merusak tanaman kelapa sawit dengan cara mencabut bonggol dan memakan umbut kelapa sawit. Gajah menjadi hama alasannya yakni habitatnya sudah terdesak oleh perkebunan kelapa sawit sehingga gajah sering merusak tanaman kelapa sawit di daerah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Pengendalian gajah termasuk sulit alasannya yakni binatang ini termasuk yang dilindungi. Pengendalian yang sering dilakukan yakni dengan membangun parit isolasi sedalam 3 meter dengan lebar 2,5 meter yang mengelilingi kebun, dan menciptakan kawat beraliran listrik (electric fencing) dengan voltase rendah.

Upaya melindungi tanaman kelapa sawit terhadap serangan gajah yakni dengan menghalau gajah sehingga tidak memasuki areal perkebunan. Hal ini sanggup dilakukan dengan beberapa cara (Sudharto dan Desmier de Chanon 1997; Purba, 2004; Susanto dan Purba,2005) sebagai berikut:

Menggunakan electric-fence dengan ketinggian kawat teratas 1,5 m, dengan 4 kawat, sekaligus untuk mencegah babi hutan. Cara ini efektif jikalau dibarengi dengan menciptakan barier terbuka tanpa pohon selebar 7,5 – 10 m antara kawat dan tepi hutan, mengikuti sepanjang jalur kawat. Listrik dengan tegangan 50 – 100 volt diaktifkan mulai jam 17.00 sampai 06.00. Cara ini cukup efektif menghalau gajah dan babi hutan di kebun percobaan PPKS di Padang Mandarsah.

Membangun parit isolasi selebar 3 m dan dalamnya 2,5 m di sepanjang perbatasan areal kebun dengan hutan. Tanah galian ditempatkan di cuilan dalam kebun. Kegiatan ini sanggup dilakukan memakai alat berat menyerupai back hoe atau ekskavator. Hasil yang lebih baik jikalau cara ini dikombinasikan dengan cara a di atas.
Menggunakan gajah terlatih dengan pawangnya untuk menghalau gajah liar, dan mengiringnya kembali ke habitatnya di hutan lindung. Cara ini telah dilakukan dengan hasil baik dalam Operasi Ganesha di Lampung/Sumatera Selatan beberapa tahun yang lalu.
Menembak dengan peluru bius, selanjutnya gajah dipindahkan ke habitat atau ke penangkarannya.

Memasang api unggun pada malam hari pada beberapa titik dengan jarak tertentu di tepi areal tanaman yang berbatasan dengan hutan.

Cara-cara tersebut efektif, namun memerlukan biaya cukup besar. Cara terbaik yakni menyediakan tempat hutan yang cukup dan mengembalikan-meningkatkan daya dukungnya mendekati keadaan semula. Dalam hal ini, peraturan perundang-undangan yang baik sanggup berhasil guna jikalau dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Demikian artikel Hama Gajah pada Perkebunan Kelapa Sawit, semoga bermanfaat