Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara Menanam Buah Melon


SYARAT TUMBUH TANAMAN MELON
Tanaman melon memerlukan curah hujan antara 2000-3000 mm/th dengan ketinggian kawasan yang optimal 200-900 mdpl. Intensitas sinar matahari berkisar antara 10-12 jam per hari. Suhu optimal untuk perkecambahan berkisar 28°-30°C, untuk pertumbuhan vegetatif 20-25°C dan untuk pembungaan >25°C. Rasa melon yang cantik akan tercapai apabila selisih suhu antara siang dan malam cukup tinggi. Suhu pada siang hari untuk pembesaran 26°C sehingga sanggup meningkatkan fotosintesis. Sedangkan suhu malam harinya <20°C untuk menekan proses respirasi cadangan makanan. Air sangat dibutuhkan oleh tumbuhan ini lantaran 90% kandungan melon terdiri dari air. Lokasi penanaman melon sebaiknya bukan bekas lahan tumbuhan melon atau tumbuhan sefamili. Minimal sudah diberakan selama 2 tahun untuk diperoleh hasil yang optimal.

PERSIAPAN TEKNIS BUDIDAYA MELON
Pengukuran pH tanah diharapkan untuk memilih jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran sanggup dilakukan dengan kertas lakmus, PH meter, atau cairan PH tester. Pengambilan titik sampel sanggup dilakukan dengan cara zigzag.

PELAKSANAAN BUDIDAYA MELON

Persiapan Lahan
Persiapan lahan mencakup pembajakan dan penggaruan tanah, Pembuatan bedengan bernafsu dengan lebar 110-120 cm, tinggi 40-70 cm dan lebar parit 50-70 cm, pemberian kapur pertanian sebanyak 200 kg/rol mulsa PHP (Plastik Hitam Perak) untuk tanah dengan pH di bawah 6,5, pemberian pupuk sangkar yang sudah difermentasi sebanyak 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/rol mulsa PHP, kemudian dilakukan pengadukan/pencacakan bedengan biar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah, persiapan selanjutnya pemasangan mulsa PHP, pembuatan lubang tanam dengan jarak tanam ideal untuk ekspresi dominan kemarau 60 cm x 60 cm sedangkan untuk ekspresi dominan penghujan sanggup diperlebar 70 cm x 70 cm dan kemudian dilakukan pemasangan ajir. Pemasangan ajir yang dianjurkan dengan sistem ajir tegak supaya kelembaban tumbuhan terjaga, masing2 ajir dihubungkan dengan gelagar. Gelagar ini disamping menghubungkan ajir yang satu dengan lainnya juga berfungsi sebagai kawasan penggantungan buah. Agar serangkaian ajir tersebut menjadi kuat pada ajir paling pinggir dan setiap 4 ajir dipasang ajir penguat membentuk sudut ± 45°.

Persiapan Pembibitan dan Penanaman
Pada persiapan pembibitan dibutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit yang masih muda. Kemudian menyediakan media semai dengan komposisi 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media gabungan dimasukkan ke dalam polibag semai. Sebelum melaksanakan penyemaian benih, sebaiknya benih direndam dalam larutan fungisida sistemik berbahan aktif simokanil atau metalaksil dengan takaran ½ dari takaran terendah yang dianjurkan pada kemasan selama ± 6 jam, gres kemudian benih disemai pada media. Untuk mempercepat perkecambahan benih permukaan media ditutup dengan kain goni (bisa juga memakai mulsa PHP) dan dijaga dalam keadaan lembab.
Pembukaan epilog permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah berkecambah, gres kemudian benih disungkup memakai plastik transparan. Pembukaan sungkup dimulai pada jam 07.00 - 09.00, dan dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu berair dan dilakukan setiap pagi. Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid pada umur 8 hss (hari sehabis semai) dengan takaran ½ dari takaran terendah. Bibit yang sudah mempunyai 4 helai daun sejati siap untuk pindah tanam ke lahan.

PEMELIHARAAN TANAMAN PADA BUDIDAYA MELON

Penyulaman
Penyulaman dilakukan hingga dengan umur tumbuhan 2 minggu. Tanaman yang sudah terlalu bau tanah apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Dan akan besar lengan berkuasa terhadap pengendalian hama penyakit.

Pengikatan dan Pemangkasan Tanaman
Tanaman melon termasuk tumbuhan merambat dengan pertumbuhan yang cepat, untuk itu sedini mungkin harus sudah segera diikatkan pada ajir, pengikatan dilakukan setiap jarak 40 cm.
Pemangkasan tumbuhan bertujuan untuk memelihara cabang sesuai dengan yang dikehendaki. Agar sirkulasi udara di sekitar arel pertanaman lancar maka dianjurkan memelihara satu cabang utama. Pemangkasan cabang lateral dimulai dari ruas ke-1 hingga ke-6. Cabang lateral pada ruas ke-7 hingga ke-10 dipelihara sebagai kawasan bakal buah. Bakal buah diseleksi dikala ukuran buah minimal sebesar telur, dipilih 2 buah yang sempurna. Setelah dilakukan seleksi buah cabang lateral yang buahnya dipelihara dipangkas dengan menyisakan 3 helai daun diatasnya. Sedangkan cabang lateral yang buahnya tidak dipelihara, yang satu dipangkas pada ruas ke 2 dan yang satunya lagi dipelihara sebagai cadangan daun untuk mengantisipasi kekurangan daun akhir serangan hama penyakit. Pemangkasan cabang lateral dilanjutkan pada ruas ke-12 hingga ke-33. Ujung cabang utama diatas ruas ke 33 kemudian dipangkas.
Buah melon perlu diikat pada gelagar untuk membantu batang tumbuhan menyangga beban buah. Pengikatan dilakukan pada cabang lateral yang berafiliasi dengan tangkai buah membentuk abjad T.

Sanitasi Lahan dan Pengairan
Sanitasi lahan pada budidaya melon mencakup : pengendalian gulma/rumput, pengendalian air dikala ekspresi dominan hujan sehingga tidak muncul genangan, pemangkasan daun dan pencabutan tumbuhan yang terjangkit hama penyakit.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban seminggu sekali bila tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.

Pemupukan Susulan
Pupuk akar diberikan dengan cara pengocoran pada umur 15 hst, 25 hst dan 35 hst dengan takaran 3kg NPK 15-15-15 dan 1kg ZK dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tumbuhan diberikan 200ml.
Pupuk daun kandungan Nitrogen tinggi diberikan pada umur 7 hst dan 24 hst, sedangkan kandungan Phospat, kalium dan mikro tinggi diberikan umur 20 hst, 30 hst dan 45 hst.

DEFISIENSI UNSUR HARA

Kalium. Tanaman melon memerlukan unsur hara kalium dalam jumlah yang sangat banyak. Unsur ini berperan dalam penyusunan protein dan karbohidrat. Selain itu pemberian unsur kalium yang cukup juga akan meningkatkan kualitas buah serta meningkatkan ketahanan tumbuhan baik terhadap serangan hama penyakit maupun kekeringan. Kekurangan kalium ditandai dengan tanda-tanda tepi daun menjadi kuning muda, kemudian menjelma kecoklatan, kesannya robek seolah bergerigi. Untuk mengatasi kekurangan unsur hara ini sanggup dikocor KNO3, dan sanggup pula dilakukan penyemprotan pupuk daun yang mengandung kalium tinggi, contohnya pupuk MKP (Mono Kalium Pospat).
Magnesium. Tanaman melon juga membutuhkan unsur magnesium dalam jumlah yang relatif banyak. Unsur ini berfungsi unsur membentuk klorofil (zat hijau daun) dan mengaktifkan enzim-enzim dalam proses metabolisme. Kekurangan unsur ini ditandai dengan klorosis diantara tulang daun, warna daun menguning, terdapat bercak merah kecoklatan sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau. Untuk mengatasi kekurangan unsur ini sanggup dengan pengapuran dan penyemprotan pupuk daun yang mengandung magnesiun tinggi, misal magnesium sulfat.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN MELON

HAMA TANAMAN MELON

1. Gangsir
Gangsir menyerang batang tumbuhan muda terutama pada tumbuhan yang gres saja pindah tanam. Serangannya dilakukan pada malam hari, dengan memotong batang tumbuhan tetapi tidak memakannya. Hama ini bersembunyi di dalam tanah dengan menciptakan liang pada tanah, keberadaan gangsing sanggup dicirikan adanya onggokan tanah pada muka liang. Cara pengendaliannya ialah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

2. Ulat Tanah
Hama jenis ini menyerang tumbuhan pada malam hari, sedangkan pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah atau di balik mulsa PHP. Ulat tanah menyerang batang tumbuhan yang masih muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Cara pengendaliannya ialah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

3. Ulat Grayak
Ulat grayak menyerang daun tumbuhan tolong-menolong dalam jumlah yang sangat banyak, ulat ini biasanya menyerang di malam hari. Pengendalian yang sanggup dilakukan ialah dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan takaran sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

4. Ulat Jengkal
Gejala serangan ulat ini ditandai pada tepi daun muda terdapat bekas gigitan serangga yang makin usang makin makin ke tengah hingga tersisa tulang daunnya. Pengendalian yang sanggup dilakukan ialah dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan takaran sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

5. Thrips
Serangan thrips ditandai dengan adanya bercak-bercak keperakan pada daun tumbuhan yang terserang. Hama ini lebih suka mengisap cairan daun muda sehingga mengakibatkan daun yang terjangkit mengeriting, kesannya tumbuhan menjadi kerdil. Pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan takaran sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

6. Kutu Daun
Kutu daun mengisap cairan tumbuhan terutama pada daun yang masih muda, kotoran dari kutu ini berasa cantik sehingga menggundang semut. Daun yang terjangkit mengalami klorosis(kuning), menggulung dan mengeriting, kesannya tumbuhan menjadi kerdil. Pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan takaran sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

7. Kutu Kebul
Hama ini berwarna putih, bersayap dan tubuhnya diselimuti serbuk putih menyerupai lilin. Kutu kebul menyerang dan menghisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian hama ini dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan takaran sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.
8. Tungau
Tungau bersembunyi di balik daun dan menghisap cairan daun. Daun yang terjangkit berwarna kecoklatan dan terpelintir, serta pada permukaan bawah daun terdapat benang-benang halus berwarna merah atau kuning. Pengendalian tungau sanggup dilakukan dengan penyemprotan insektisida akarisida berbahan aktif propargit, dikofol, tetradifon, piridaben, klofentezin, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin dengan takaran sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

9. Kumbang Daun
Kumbang daun dinamakan juga oteng-oteng. Serangannya ditandai dengan adanya bekas gigitan serangga membentuk guratan-guratan konsentris pada daun. Selain merusak daun kumbang ini juga merusak bunga melon. Pengendaliannya dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan takaran sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

10. Lalat Buah
Lalat betina remaja menyerang buah melon dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah, kemudian telur menjelma larva, telur-telur inilah yang kesannya menggerogoti buah melon sehingga buah menjadi busuk. Pengendalian lalat buah sanggup memakai perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan pada botol aqua yang diikatkan pada bambu dengan posisi horisontal, atau sanggup pula memakai buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil. Selain itu juga sanggup dilakukan penyemprotan memakai insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan takaran sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

11. Tikus
Tikus menyerang buah melon pada malam hari, pada siang hari biasanya hama ini bersembunyi dalam sarang. Cara pengendaliannya sanggup dengan menawarkan umpan yang telah dicampur rodentisida, gabungan ini ditaruh di depan lubang tikus yang masih aktif, ditandai dengan adanya sisa-sisa kuliner gres pada lubang atau terlihat bekas dilalui tikus. Selain itu sanggup juga dengan cara, pada lubang sarang aktif diberi kabit, dan disiram dengan air kemudian lubang ditutup dengan tanah biar gas yang ditimbulkan oleh karbit tidak keluar.

12. Nematoda
Serangan nematoda ditandai adanya bintil-bintil pada akar. Nematoda merupakan cacing tanah yang berukuran sangat kecil, hama ini merupakan cacing benalu yang menyerang cuilan akar tanaman. Bekas gigitan cacing inilah yang kesannya mengakibatkan serangan sekunder, menyerupai layu bakteri, layu fusarium, kedaluwarsa phytopthora atau cendawan lain penyerang akar. Cara pengendalian nematoda ialah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

PENYAKIT TANAMAN MELON

1. Rebah Semai

Rebah semai biasa menyerang tumbuhan melon pada fase pembibitan. Cara pengendaliannya dengan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dengan takaran ½ dari takaran terendah yang tertera pada kemasan.

2. Layu Bakteri
Penyakit ini sering menggagalkan tanaman, Serangannya disebabkan oleh bakteri. Upaya pengendalian yang sanggup dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tumbuhan yang terserang, melaksanakan penggiliran tumbuhan serta penyemprotan secara kimiawi memakai bakterisida dari golongan antibiotik dengan materi aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin dengan takaran sesuai pada kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi sanggup diberikan trichoderma pada dikala persiapan lahan, pada umur 20hst dan 35 hst dilakukan pengocoran dengan pestisida organik pada tanah, teladan wonderfat dengan takaran sesuai tawaran pada kemasan.

3. Layu Fusarium
Gejala yang ditimbulkan oleh layu fusarium hampir sama dengan layu bakteri, yang membedakan hanyalah penyebabnya. Layu fusarium disebabkan oleh serangan jamur. Upaya pengendalian yang sanggup dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tumbuhan yang terserang, melaksanakan penggiliran tumbuhan serta penyemprotan secara kimiawi memakai fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan takaran sesuai pada kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi sanggup diberikan trichoderma pada dikala persiapan lahan, pada umur 20hst dan 35 hst dilakukan pengocoran dengan pestisida organik pada tanah, teladan wonderfat dengan takaran sesuai tawaran pada kemasan.

4. Busuk Phytopthora
Penyakit ini menyerang semua cuilan tanaman. Batang yang terjangkit ditandai dengan bercak coklat kehitaman dan kebasah-basahan. Serangan serius mengakibatkan tumbuhan layu. Daun melon yang terjangkit menyerupai tersiram air panas. Buah yang terjangkit ditandai dengan bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian secara kimiawi memakai fungisida sistemik, teladan materi aktif yang sanggup dipakai ialah metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil atau dimetomorf dan fungisida kontak, teladan materi aktif yang sanggup dipakai ialah tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram.

5. Gummy Stem Blight
Penyakit ini bermula dari cuilan bawah batang tumbuhan yang nampak menyerupai tercelup minyak, selanjutnya mengeluarkan cairan berwarna merah cokelat dan kesannya tumbuhan mati. Daun yang terjangkit ditandai dengan bercak lingkaran melekuk ke dalam berwarna cokelat kehitaman usang kelamaan daun akan mengering. Pengendalian secara kimiawi memakai fungisida sistemik, teladan materi aktif yang sanggup dipakai ialah benomil, metil tiofanat, karbendazim, tridemorf, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

6. Powdery Mildew
Gejala diawali dengan bercak bulat kecil berwarna keputihan pada permukaan cuilan bawah daun. Kemudian bercak akan menyatu dan berkembang ke permukaan daun cuilan atas sehingga daun menyerupai diselimuti tepung. Pengendalian secara kimiawi memakai fungisida sistemik, teladan materi aktif yang sanggup dipakai ialah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

7. Downy Midew
Terdapat bercak berwana kuning muda pada permukaan daun yang dibatasi oleh tulang daun, sedangkan pada permukaan cuilan bawahnya terdapat massa spora yang berwarna kehitaman. Pada serangan yang parah terjadi pembusukan tulang daun yang kesannya mengakibatkan tumbuhan mati. Pengendalian secara kimiawi memakai fungisida sistemik, teladan materi aktif yang sanggup dipakai ialah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

8. Antraknosa
Antraknosa sering juga diistilahkan dengan nama patek. Penyakit ini menyerang semua cuilan tumbuhan yang ditandai dengan adanya bercak agak bulat berwarna cokelat muda, kemudian menjelma cokelat bau tanah hingga kehitaman. Semakin usang bercak melebar dan menyatu kesannya daun mengering. Gejala lain ialah bercak bulat memanjang berwarna kuning atau cokelat. Buah yang terjangkit akan nampak bercak agak bulat dan berlekuk berwarna cokelat tua, disini cendawan akan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian secara kimiawi memakai fungisida sistemik, teladan materi aktif yang sanggup dipakai ialah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

9. Kudis (scab)
Serangan pada buah muda akan tampak bercak berwarna hijau-cokelatan melekuk ke dalam, cuilan pinggirnya mengeluarkan cairan yang akan mengering menyerupai karet. Pada buah bau tanah serangan penyakit ini akan membentuk kudis bergabus yang berwarna cokelat, tetapi proses pematangan buah tidak mengalami hambatan. Namun sehabis dipanen, cendawan akan aktif dan buah gampang membusuk. Pada daun yang terjangkit akan terlihat bercak cokelat kebasah-basahan dan mengeluarkan lendir. Pengendalian secara kimiawi memakai fungisida sistemik, teladan materi aktif yang sanggup dipakai ialah metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram.

10. Bercak Daun
Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri, berkembang pesat terutama pada ekspresi dominan hujan. Serangan ditandai dengan adanya bercak putih dan bersudut lantaran dibatasi tulang daun. Kemudian bercak menjelma cokelat kelabu serta cuilan bawah daun mengeluarkan cairan, kesannya daun mengering. Pengendaliannya memakai bakterisida dari golongan antibiotik dengan materi aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin, atau dari golongan anorganik menyerupai tembaga. Dosis sesuai pada kemasan.

11. Virus
Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan terutama pada ekspresi dominan kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai dengan pertumbuhan tumbuhan yang mengerdil, daun mengeriting dan terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus hingga dikala ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit ini ditularkan dari satu tumbuhan ke tumbuhan lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya ialah thrips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau. Manusia sanggup juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama pada dikala pemangkasan. Beberapa upaya penanganannya virus antara lain : membersihkan gulma (karena gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tumbuhan yang sudah terjangkit virus, kebersihan alat dan memberi pemahaman kepada tenaga kerja biar tidak ceroboh dikala melaksanakan penanganan terhadap tanaman.

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA MELON :

- Pengendalian hama gangsir, ulat tanah dan nematoda dilakukan secara bersamaan cukup satu kali pemberian insektisida, yaitu 1gram per lubang tanam.
- Pengendalian hama ulat grayak, ulat jengkal, thrips, kutu daun, kutu kebul, tungau, kumbang daun dan lalat buah dan penyakit memakai pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian materi aktif yang tertera di atas setiap melaksanakan penyemprotan (jangan memakai materi aktif yang sama secara berturut-turut).

PANEN

Umur panen buah melon sangat bervariasi, yaitu antara 55-85 hst (hari sehabis tanam). Faktor yang paling besar lengan berkuasa terhadap umur panen ialah genetik dan lingkungan. Buah melon dengan varietas yang berbeda akan mempunyai umur panen yang berbeda pula sekalipun ditanam pada kondisi lingkungan yang sama. Dan sebaliknya, varietas melon yang sama akan mempunyai umur panen yang berbeda andaikata ditanam pada kondisi lingkungan yang berbeda, terutama ketinggian tempat.