Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pembenihan Abalon (Holiotis Squamata) Dan Budidaya Pakan Alami Di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Maritim Gondol

Abalon merupakan salah satu komoditas maritim dari jenis molusca atau kerang-kerangan yang mempunyai nilai hemat penting. Disamping rasanya yummy juga mempunyai nilai gizi yang tinggi dengan kandungan protein 71,99%, lemak 3,20%, serat 5,60%, bubuk 11,11% dan kadar air 0,60%. Selain itu cangkangnya mempunyai nilai estetika yang sanggup dipakai untuk pelengkap pembuatan kancing baju dan aneka macam bentuk barang kerajinan lainnya (Imai, 1977; Ino, 1980; Kastoro, 1992; Setiawati et al., 1994).
Di Indonesia, jenis siput / kerang ini belum banyak dikenal masyarakat dan pemanfaatannya gres batas-batas kawasan tertentu, khususnya kawasan pesisir. Abalon populer di negara-negara maju menyerupai di Eropa, Amerika Utara, Jepang dan Meksiko. Akan tetapi di Jakarta ada sebuah hotel dan restoran yang menyajikan sajian khusus yang berbahan kerang abalon salah satunya restoran Ah Yat Abalone di Hotel Dusit Mangga Dua, Plaza Indonesia dan Plaza Senayan. Yang menariknya untuk merasakan setiap potong abalon pengunjung minimal harus merogoh kocek sekitar Rp. 200 ribu – 1 juta perporsi. Perlu diketahui itu bukan sajian termahal, untuk sajian abalon kering per ekornya mencapai Rp. 13 juta seharga 1 buah motor (Indonesia Version, 2007). Tapi ironisnya, seluruh materi baku kuliner abalon masih di impor dari Jepang, Meksiko dan Afrika Selatan. Ini disebabkan ketersediaan materi baku abalon di Indonesia masih sangat minim.
Ditambah dengan kebutuhan abalon di pasar dunia semakin meningkat baik dalam bentuk segar atau olahan. Pada tahun 1975 kebutuhan abalon dunia masih seimbang selanjutnya semakin meningkat hingga pada tahun 2004 yaitu suplai sebesar 14.000 ton sedang kebutuhan tetap 20.000 ton (Gordon & Cook, 2001 dalam Garllardo, 2007). Indonesia mulai mengekspor abalon pada tahun 2005 ke negara Jepang, Cina, Singapura,dan Hongkong (Anonim, 2007). Permintaan abalon dari negara tersebut semakin meningkat. Data dari Dinas Perikanan Dan Kelautan Provinsi Nusa Tenggara Barat bahwa setiap bulan jumlah ekspor abalone sekitar 600 – 950 kg (Anonim, 2007). Volume ekspor tersebut nyaris tak terlihat lantaran hanya mengandalkan dari hasil tangkapan nelayan.
Tingginya usul konsumen akan kebutuhan abalon mendorong perjuangan penangkapan secara intesif sehingga populasi abalone berkurang, disamping itu pertumbuhan abalon sangat lambat (Imai, 1977). Oleh lantaran itu pemanfaatan sumber daya maritim tidak hanya dilakukan melalui penangkapaan tetapi juga perlu dikembangkan perjuangan budidayanya, salah satunya yakni budidaya laut. Pengembangan perjuangan budidaya abalon di masa mendatang mempunyai prospek cukup cerah, mengingat beberapa keunggulan yang dimilikinya baik dari teknik budidayanya, potensi lahan dan aspek pemasarannya. Abalon kalau dibudidayakan dengan teknologi yang sempurna akan menghasilkan laba yang besar lantaran hampir seluruh penduduk di dunia sangat menggemari abalon. Di negara lain menyerupai Jepang, Selandia Baru, Taiwan, China, Australia, Afrika Selatan dan Korea Selatan, abalone sudah dibudidayakan dengan memakai teknologi yang canggih dan sempurna guna (Romi & Sri, 2001).
Di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol (BBRPBL) Gondol, Bali, pembenihan abalon (Haliotis squamata) mulai dikembangkan semenjak tahun 2006 melalui kolaborasi dengan perusahaan swasta “Mariteech” dari Jepang. Abalon dipilih lantaran spesies ini mempunyai nilai hemat yang tinggi, terutama di jepang. Di jepang, Haliotis squamata dikenal dengan nama „tokobusi‟. Di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut (BBRPBL) Gondol, abalon sudah berhasil dibudidayakan. Peluang keberhasilan pembenihan abalon untuk kawasan tropis cukup besar menggingat Thailand sebelumnya telah berhasil membenihkan Haliotis asinina secara missal (Singhagraiwan & Masanori, 1993).

LIHAT SELENGKAPNYA